#advertise {margin:0px;padding:0px;text-align:center} #advertise img {margin:0px 0px;text-align:center;-webkit-border-radius: 1px;-moz-border-radius: 1px;border-radius: 1px;-webkit-box-shadow: 1px 2px 1px #ccc;-moz-box-shadow: 1px 2px 1px #ccc;box-shadow: 0px 0px 0px #ccc;} #advertise img:hover {-moz-opacity: 0.7;opacity: 0.7;filter:alpha(opacity=70);}

About

Sabtu, 17 Juni 2017

EMOLIEN KRIM PELEMBAB

Moisturizing Cream

I.                   Nama Sediaan                 : Moisturizing Cream
II.                Tujuan Pemakaian
·         Untuk membantu mengurangi kekeringan kulit
·         Memperbaiki pertahanan kulit yang rusak, meningkatkan jumlah air
·         Mengembalikan kehalusan dan kelembutan
(Harry’s Cosmeticology, 1987)
III.             Karakteristik Sediaan
·         Mudah dicuci
·         Tidak meninggalkan bekas pada kulit
·         Lembut
·         Meninggalkan rasa nyaman dan dingin setelah air menguap pada daerah yang digunakan (Lachman, Liberman & Kanig, 1986)
·         Memiliki konsistensi yang lebih kental dengan penetrasi yang baik ke dalam kulit (Buhse., et al, 2005)


IV.             Rancangan Modifikasi Formula
FORMULA
Standar Vanishing Cream
(Harry’s Cosmeticology, p. 66 Vanishing Cream)
Pembanding
(Wardah Moisturizer Cream)
Modifikasi
Nama Bahan
Fungsi
Konsentrasi (%)
Nama Bahan
Fungsi
Nama Bahan
Fungsi
Konsentrasi
Terpilih (%)
Stearic Acid (M)
Emulsifying
agent,
Solubilizing agent
(HPE 6th p. 697)
15 %
Glyceryl Stearate
(M)
Emollient, Emulsifying agent,
Solubilizing agent,
Stabilizing agent (HPE 5th p. 308)
Stearic Acid (M)
Emulsifying agent,
Solubilizing agent
(HPE 6th p. 697)
15 %
Potassium Hydroxide
  (A)
Alkalizing agent
(HPE 6th p. 576)
0, 7 %
Dimethicone (A)
Antifoaming agent,Emollient (HPE 6th  p. 233)
Potassium Hydroxide (A)
Alkalizing agent (HPE 6th
p. 576)
0, 7 %
Glycerin (M)
Cosolvent, Emollient, Humectant,
Plasticizer, Solvent,
Sweetening
agent,Tonicity agent
(HPE 6th p. 283)
8,0 %
Glycerin (A)
Cosolvent, Emollient, Humectant,
Plasticizer,
Solvent, Sweetening agent,
Tonicity agent (HPE 6th p. 283)
Glycerin (A)
Cosolvent, Emollient,
Humectant, Plasticizer,
Solvent, Sweetening agent,
Tonicity agent
(HPE 6th p. 283)
5,0 %
Water (A)
Pelarut (HPE 5th
p.802)
76,3 %
Water (A)
Pelarut (HPE 5th p. 802)
Water (A)
Pelarut (HPE 5th p.802)
ad 100
Perfume, Preservative
(A)
Bahan Tambahan
Qs
Cetearyl Alcohol (M)
Coating agent, Emulsifying agent,
 Stiffening agent (HPE 6th p.156).
Perfume,
Preservative (A)
Bahan Tambahan
0,25 %
Bentuk Sediaan : Moisturizing Cream
Tipe Emulsi : O/W

PERHITUNGAN HLB
15 / 100 x 15 = 2,25
BHT (A)
Antioxidant (HPE 6th p. 75)
*Propylene Glicol (A)
Antimicrobial preservative,
Disinfectant, Humectant,
 Plasticizer, Solvent,
Stabilizing agent (HPE 6th
p. 592)
3,0 %
Benzyl Alcohol
Antimicrobial preservative,
 Disinfectant, Solvent 
(HPE 6th p. 64)
Methylparaben
Antimicrobial Preservative
(HPE 6th p. 441)
*Methylparaben (A)
Antimicrobial Preservative
(HPE 6th p. 441)
0,2 %
Propylparaben
Antimicrobial Preservative
(HPE 6th p. 596)
*Propylparaben (A)
Antimicrobial Preservative
(HPE 6th p. 596)
0,20 %
Fragance
Perfume
Sari daging buah
Aloe vera
Lidah Buaya merupakan
bahan alam yang berpotensi
dapat melembabkan kulit
dengan konsentrasi terpilih
0,5% (Sutrisno, 2014)
0,5 %
Ceteareth-20
Emulsifier (Ernest, 1991)
Bentuk Sediaan : Moisturizing Cream
Tipe Emulsi : O/W






PERHITUNGAN HLB

Faktor
Konsentrasi (%)
HLB
HLB Butuh
Stearic Acid
15,0 %
15
15 / 15 x 15 = 2,25
TOTAL
15
2,25
PEG-100 Stearate
(HPE 6th p.517)
Ointment base, Plasticizer, Solvent
Titanium Dioxide
Coating agent (HPE 6th p. 741)
Isopropyl Myristate
Emollient, Solvent (HPE 6th
p. 348)
Aloe Vera Extrac
Olive Oil PEG-7 Esters
Ceteareth 33
Methylchloroisothiazolinone
Methylisothiazolinone
Bentuk Sediaan : Wardah Moisturizer Cream
Tipe Emulsi : O/W

Tabel nilai rentang HLB dan tipe emulsi
(The HLB System)
Alasan penambahan bahan pada formula modifikasi
·         Lidah Buaya merupakan bahan alam yang mengandung mono dan polisakarida yang dapat digunakan sebagai pelembab dengan rentang konsentrasi 0,05%-5%.(Irawati, 2006).
·         Propilen Glikol dipilih sebagai humektan dan dikombinasikan dengan gliserin agar dapat meningkatkan mutu fisik, aseptabilitas, dan efektivitas krim pelembab (Sutrisno, 2014).
·         Efektivitas Aloe vera sebagai pelembab dapat ditingkatkan dengan penambahan humektan sintetis. Humektan sintetis yang digunakan dalam penelitian ini adalah gliserin dan propilen glikol.
·         Kombinasi glicerin dan propilen glikol dapat meningkatkan hidrasi pada kulit dalam sediaan krim pelembab Aloe vera berbasis vanishing creamberdasarkan viskositas rendah dari gliserin yang memberi kelembutan sehingga nyaman digunakan. Sedangkan propilen glikol mempunyai viskositas yang tinggi yang dapat mencegah terjadinya pemisahan emulsi (Wilkinson and Moore, 1982). Selain itu propilen glikol lebih stabil digunakan dalam suatu sediaan bila dikombinasikan dengan gliserin (Loden, 2001). Kombinasi glycerin : propilen glikol (5:3) didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Herawati (2006) bahwa konsentrasi gliserin sebagai humektan yang terbaik adalah 5. Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Minarsih (2005), konsentrasi propilen glikol sebagai humektan yang terbaik adalah 3%. Dan penelitian terakhir  dari Linawati (2014) diperoleh bahwa formula I yang mengandung 0,5% ekstrak Aloe vera, 5% gliserin dan 3% propilen glikol memiliki nilai karakteristik formula terbaik untuk meningkatkan hidrasi ditinjau dari segi efektivitasnya karena memiliki nilai [AUC] terbesar diantara formula lainnya yaitu formula II (10:6)%, dan formula III (15:9)%.
·         Nama bahan yang ditambahkan : Metylparaben
Alasan : Tingginya kandungan air dalam sediaan gel, maka akan menyebabkan meningkatnya resiko kontaminasi dari mikroba sehingga diperlukan pengawet untuk menekan resiko terjadinya kontaminasi (Depkes RI, 1979). Efektif dalam kisaran pH yang luas dan memiliki aktivitas antimikroba yang kuat (Rowe., dkk. 2005)
·         Nama bahan yang ditambahkan  : Propilparaben
Alasan : Untuk mencegah terjadinya pertumbuhan mikroba. Dengan kombinasi antara metylparaben dan propil paraben akan meningkatkan kemampuan aktivitas antimikroba (Rowe, dkk., 2005)





V.                Matriks untuk Formula Hasil Modifikasi
NO
Nama Bahan
Sifat Kimia
Sifat Fisika
Kadar
Fungsi
Alasan dipakai dalam formula
pH Stabilitas
Pemerian 
Kelarutan
Lazim
Terpilih
1
Stearic Acid
(HPE 6th
p. 697)
Titik didih : 383 ᵒC
Titik lebur : 69-70 ᵒC
Asam stearat
adalah bahan
stabil. Perlu
ditambahkan
antioksidan.
Pemerian :keras, putih/sedikit
berwarna putih, mengkilat.
Kelarutan :
larutdalam 
benzena, 
kloroform, dan
eter ; larut
dalam etanol 95%, heksena, danpropilen glikol ; praktis tidak
larut dalam air.
1 – 20 %
15 %
Emulsifying 
agent,
Solubilizing
agent
Digunakan 
sebagai fase
minyak,
memiliki
kestabilan yang baik, dapat membentuk basis
yang baik pada pembuatan krim.
2
Methylparaben
(HPE 6th
p. 441)
Density : 1,32 g/cm3
Titik lebur : 125 – 128 ᵒC
Larutan stabil
pada pH 3-6 danterhidrolisis
dengan cepat
pada pH diatas 8
Pemerian :
bubuk kristal
putih, hampir
atau tidak 0,02 – 0,3 %
berbau.
Kelarutan :
mudah larut
dalam etanol
95% ; praktis
tidak larut
dalam mineral
oil.

0,2 %
Pengawet
Pengawet yang dapat bekerja
pada pH 4-8
3
Propylparaben
(HPE 6th
p. 596)
Density : 1,288 g/cm3
Titik didih : 295ᵒC
Larutan stabil
pada pH 3-6 danterhidrolisis
cepat pH diatas 8.
Pemerian :
putih, kristal,
tidak berbau,
hambar.
Kelarutan :
mudah larut
dalam etanol 95% dan propilen glikol.
0,01 – 0,6 %
0,2 %
Pengawet 
Memiliki pH 4-8sebagai
antimikroba 
pada kosmetik.
4
Pottasium Hydoxide (HPE 6th p. 576)
pH : 13,5
Titik didih : 360ᵒC
Pemerian :
putih bentuk
serpih, palet
kecil,
higroskopis.
Kelarutan :
larut dalam
1:0,9 air ; 1:0,6 air 100°C ;
dalam 1:3 etanol 95 %; dalam
1:2,5 gliseril ;
praktis tidak
larut dalam eter.
0,8 %
Alkalizing Agent
Kalium
hidroksida 
digunakan 
dalam formulasi untuk  mengatur pH dan juga
dapat digunakanuntuk bereaksi
dengan asam
lemah sehingga dapat
membentuk
garam.
5
Glycerin (HPE 6th p. 283)
Titik didih : 290 ᵒC
Titik lebur : 17,8 ᵒC
Gliserin 
higroskopis 
pada 
pencampuran 
dengan air,
etanol 95% dan propilen glikol,  secara kimiawi
stabil
Pemerian :
tidak berwarna, tidak berbau,
kental, 
rasa manis,
dalam krim
digunakan 
sebagai pelarut.
Kelarutan :
sedikit larut
dalam aceton ;
larut dalam
etanol 95% dan air ; praktis
tidak larut
dalam benzen,
kloroform.
< 30 %
8,0 %
Humektan dan
emollient
Dapat 
digunakan 
sebagai solvent dan cosolvent
pada krim dan
emulsi, juga
humektam untuk kelembapan
kulit
6

Propylene 
Glicol (HPE 6th p. 592)
Titik lebur : -59 ᵒC
Titik didih : 188 ᵒC
Pada suhu
dingn stabil,
tetapi 
teroksidasi pada suhu panas,
secara kimiawi
stabil saat
bercampur 
dengan etanol 95%, gliserin,
dan air.
Pemerian :
tidak berwarna,
kental, 
rasa agak manis,sedikit pedas
menyerupai 
gliserin.
Kelarutan :
Larut dalam
aseton, 
kloroform, 
etanol 95 % dan air, dalam 1:6
eter ; tidak larut dalam minyak
mineral.
5 – 80 %

5,0 %

Sebagai
pembawa untuk
pengemulsi
Dapat
membantu
melarutkan 
nipagin dan
nipasol.
7
Water (HPE 6th p. 766)
Density :
1 g/cm3
Titik didih : 100 ᵒC
Stabil dalam
secara kimiawi maupun fisika.
Pemerian :cair,bening dapat
bercampur 
dengan pelarut
polar.
Solvent (pelarut)
Sebagai fase air.
8
Perfume
0,25 %
Bahan
tambahan
Memberikan
aroma pada
sediaan
















VI.             Bentuk Sediaan Dasar
a.       Bentuk                                    :Krim O/W
b.      Definisi                       :
Bentuk sediaan-sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan yang sesuai
(FI IV p. 6)
c.       Persyaratan Umum      :
·         Tidak mengiritasi kulit
·         Tidak berbau tengik
·         pH netral, mudah dioleskan pada kulit
(Harry’s Cosmeticology p. 60)
VII.          Bentuk Sediaan Kosmetik Terpilih
a.       Bentuk                                    : Moisturizing Krim
b.      Definisi                       :
Campuran yang membentuk barir pada kulit yang akan menghambat penguapan air, menyembuhkan luka pada kulit, humektan
yang bekerja sebagai penyerap kelembaban udara, emolient yang berfungsi sebagai lubricant dan menyebabkan kulit terlihat lebih halus (Holistic Beauty from the Inside Out: Your Complete Guide to Natural Health).
c.       Persyaratan Umum      :
·         Low air content
·         Mudah disebarkan
·         Mudah merata ( Harry’s Cosmeticology 7th, p.51)
·         Efektif menghidrasi stratum corneum dan mampu mengurangi atau mencegah transepidermal water loss
·         Emolien  membuat kulit lembut dan mengurangitransepidermal water loss
·         Mampu diabsorbsi  dengan cepat sehingga menghidrasi kulit dengan segera
(Moiturizers : What They Are and a Practical Approach to Product Selection)


VIII.       Susunan Formula
NO
Nama Bahan
Sinonim
Bahan 
Pengganti
Konsentrasi %
1 Resep
(50 gram)
1 Bets (2R)
1
Stearic Acid
Cetylacetic Acid
1 - 20 %
15 %
 7,5 gram
 15 Gram
2
Methylparaben
Nipagin
0,02 – 0,3 %
0,2 %
0,1 gram
0,2 gram
3
Propylparaben
Nipasol
0,01 – 0,6 %
0,2 %
0,1 gram
0,2 gram
4
Pottasium
Hydroxide
Kalium
Hydroxylatum
0,7 %
0,35 gram
0,7 gram
5
Glycerin
Trihidroxypropane Glycerol
< 30 %
5,0 %
2,5 gram
5 gram
6
Propylene Glicol
1,2 - Dihydroxy
Propane
5 – 80 %
3,0 %
1,5 gram
3 gram
7
Water
Aqua
ad 100 mL
8
Perfume
Pengharum
0,25 %
0,125 gram
0,25 gram
9
Sari Daging
Lidah Buaya
0,05 – 0,5 %
5 %
2,5 gram
5 gram
PERHITUNGAN SISA AIR :

a.      Untuk 1 Resep : (50 – (7,5+0,1+0,1+0,35+2,5+1,5+0,125+0,25)) =37,575 mL

b.      Untuk 1 Bets : (100-(15+0,2+0,2+0,7+5+3+0,25+0,5)) = 75,15 mL




-          Luas Permukaan Wajah           = 565 cm2 = 0,8 gram ( 1-2 x sehari )
-          30 hari pemakaian                   = 0,8 gram x 30 hari
                                                = 24 gram = 1 kali pemakaian
-          2 x pemakaian                         = 2 x 48 gram = 50 gram (1R)
(Cosmetics Fact Sheet, 2006)

IX.             Rancangan Cara Pembuatan
Pembuatan Sari Daging Buah Lidah Buaya (Aloe barbadansis)
·         Pengumpulan lidah buaya (Aloe barbadansis).
·         Lidah buaya dibersihkan, dan penyikatan kemudian dibilas.
·         Pangkal lidah buaya dipotong sekitar satu cm, kemudian dikuliti kulitnya.
·         Daging (gel) lidah buaya kemudian dibilas beberapa kali dengan air yang mengalir.
·         Daging lidah buaya ditimbang 5 gram.
·         Gel lidah buaya segera di blender dan hasilnya yang berupa sari kasar disaring.
(Wijaya, 2013)

Fase Minyak


Fase Air



                                                            Asam Stearat                                                                                                                     Nipagin                              Nipasol
                                             Panaskan suhu 70°C                                                                                                                                         
                                                                                                                                                                        Propilen Glikol
                                                                                                                                                                               Gliserin
a


                                                                                                    
c


b
                                 a = Sisa air
                                                                         Campur ketiganya, aduk hingga homogen                        b = KOH
                                                                                                                                                                   c = Sari daging lidah buaya

                                                                                                                                                                       
X.                Spesifikasi Sediaan Akhir
Parameter
Spesifikasi sediaan
Mutu fisik
Organoleptis
  Warna
Putih 
  Bau
Tidak berbau
  Bentuk
Setengah padat
  pH
6,0-7,0 (Paithankar, 2010)
  Tipe emulsi
Minyak dalam air (m/a)
  Ukuran partikel
1-100 µm (Ansel, 1985)
  Viskositas
30000-700000 cps (Buhse, 2003)
  Daya Sebar
Mudah menyebar (Paithankar, 2010)
  Homogenitas
Homogen (Dewan Standarisasi Nasional, 1996)
  Daya tercucikan air
Mudah tercucikan air
Keamanan/efikasi
Iritasi
Tidak mengiritasi (Shivhare et al, 2009)
Aseptabilitas
Kemudahan diratakan
Mudah diratakan (Panda, 2000)
Kelembutan
Lembut (Panda, 2000)
Kemudahan dibersihkan
Mudah dibersihkan (Sahu, Jha and Dubey, 2011)







XI. Rancangan Evaluasi
1)      Uji mutu fisik krim
a.      Pemeriksaan organoleptis sediaan
Pemeriksaan organoleptis sediaan meliputi bentuk, bau dan warna sediaan yang dilakukan secara visual
b.      Penentuan tipe emulsi
Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan cara sebanyak 1 tetes krim ditempatkan di atas gelas objek, ditambah 1 tetes larutan metilen biru, dicampur merata,diamatidi bawah mikroskop, akan terbentuk warna biru yang homogen yang menunjukkan terbentuknya emulsi tipe minyak dalam air sedangkan jika terbentuk warna biru yang tidak homogen pada fase luar menunjukkan terbentuknya emulsi tipe air dalam minyak (Wedana, 2013). Sediaan pelembab pada penelitian ini harus memiliki tipe emulsi minyak dalam air.
c.       Pengukuran pH sediaan
Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan cara  sediaan krim ditimbang sebanyak 1 gram dan diencerkan dengan aquades 10 ml. Elektroda pHmeter dicelupkan ke dalam sampel krim yang telah diencerkan hingga pada monitor jarum menunjukkan angka yang stabil (Juwita, 2013). pH sediaan harus sesuai dengan pH kulit yaitu berkisar antara 6-7 (Paithankar, 2010).
d.      Pengukuran ukuran partikel
Pengukuran ukuran partikel sediaan diamati dengan menggunakan mikroskop yang dilengkapi dengan micrometer okuler. Krim ditimbang sebanyak 0,1 gram dan diencerkan dengan air suling hingga 1 ml. selanjutnya hasil pengenceran  diambil dan diteteskan pada kaca obyek untuk diamati dibawah mikroskop dan dilakukan pengukuran partikel sampai dengan 500 partikel (Anggraini dkk, 2011). Ukuran partikel untuk emulsi adalah 1-100µm (Ansel, 1985).
e.       Pengukuran viskositas
Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan viscometer Brookfield .Sebanyak 250 ml sediaan krim dimasukkan ke dalam beaker glass. Selanjutnya spindel diturunkan hingga batas yang ditentukan ke dalam beaker glass yang berisi krim dan selanjutnya dilakukan pengaturan kecepatan (Asswal, Kalra, Rout, 2013). Viskositas sediaan krim adalah 30000-70000 cps (Buhse, 2003).
f.       Pengukuran daya sebar
Pengukuran daya sebar sediaan dilakukan dengan cara 0,5 gram sediaan diletakkan diatas kertas grafik yang dilapisi kaca transparan lalu dibiarkan ± 15 detik. Selanjutnya dihitung luas daerah yang diberikan oleh sediaan lalu ditutup lagi dengan lempengan kaca yang diatasnya diberi beban dengan berat tertentu (10 g, 20 g, 30 g) dan dibiarkan selama 60 detik lalu dihitung luas yang diberikan oleh sediaan (Anggraini dkk, 2011). Sediaan harus dapat menyebar secara merata (Paithankar, 2010). Kriteria uji daya sebar dapat dilihat pada tabel.
Tabel Kriteria uji daya sebar sediaan pelembab (Yuliani, 2010)
Diameter penyebaran
Interpretasi hasil
Skor
< 3 cm
Sukar menyebar (-)
0
3-5 cm
Mudah menyebar (+)
1
> 5 cm
Sangat mudah menyebar (++)
2

g.      Pengukuran homogenitas sediaan
Pengukuran homogenitas sediaan dilakukan dengan cara sediaan ditimbang 0,5 gram di atas wadah kemudian diamati secara visual dan sensoris dengan cara diraba (Singh et al., 2011).  kriteria hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel.

Tabel kriteria hasil uji hoogenitas sediaan pelembab
Kriteria
Interpretasi hasil
Skor
Sediaan memisah dan ada agregat
Tidak homogen (-)
0
Sediaan tidak memisah dan ada agregat
Kurang homogen (+)
1
Seediaan tidak memisah dan tidak ada agregat
Homogen (++)
2



h.      Pengukuran daya tercucikan air
Krim ditimbang sebanyak 1 gram kemudian dioleskan pada telapak tangan dan dicuci dengan sejumlah volume air sambil membilas tangan. Air dilewatkan dari buret dengan kecepatan 0,25 tetes per detik lalu diamati secara visual da atau tidaknya krim yang masih tersisa pada telapak tangan. Volume air yang terpakai kemudian dicatat (Anggraini dkk, 2011). Sediaan pelembab harus mudah tercucikan air. Kriteria penilaian dari uji tercucikan air dapat dilihat pada tabel.

Tabel Kriteria penentuan uji daya tercucikan air
Kriteria
Interpretasi hasil
Skor
≥ 20 mL
Tidak mudah tercucikan air (-)
0
10-20 mL
Mudah tercucikan air (+)
1
≤ 10 mL
Sangat mudah tercucikan air (++)
2

2)      Uji keamanan : uji iritasi
Uji iritasi dilakukan pada 10 orang panelis. Teknik yang digunakan pada uji iritasi ini adalah uji temple terbuka (patch test) yang dilakukan dengan cara mengoleskan formula pada punggung tangan kanan panelis seluas 2,5 cm2 dan punggung tangan kiri diolesi dengan formula krim. Uji iritasi dilakukan pada tempat yang sama selama 3 hari berturut-turut setelah pembuatan dan pada hai terakhir penyimpanan untuk masing-masing sediaan, gejala yang timbul diamati lalu hasinya dibandingkan dengan hasil olesan pada punggung tangan kiri (Wathoni dkk, 2009). Kriteria penilaian dari uji tercucikan air dapat dilihat pada tabel.

Tabel Kriteria hasil evaluasi iritasi sediaan
Kriteria penilaian
Tanda
Skor
Kemerahan, gatal-gatal, bengkak
++
0
Kemerahan dan gatal-gatal
+
1
Tidak mengiritasi
-
2
3)      Uji efektivitas
Uji efektivitas pelembab dilakukan untuk mengetahui dasar kemampuan sediaan air dalam mempertahankan kadar air dalam kulit. Uji efektivitas pelembab dilakukan secara in vitro yaitu dengan melakukan modifikasi uji pelembab metodethe sorbtion-desoption test (Minarsih, 2005).
Uji ini dilakukan dengan membuat gel hidrofilik CMC Na 3% dan pengawet Na Benzoat 0,5% dan air sampai 100% yang diletakkan pada suatu wadah dengan diameter 4,6 cm dan tinggi 2,5 cm. campuran ini merupakan simulasi kandungan air dalam kulit. Selanjutnya dilakukan impregnasi membran milipore dengan cara membran milipore ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu yang telah diisi dengan isopropyl miristat sapai membrane milipore terendam, membran direndam selama 1 jam lalu diangkat. Kelebihan isopropyl miristat yang masih menempel pada membran dihilangkan dengan meletakkan membrane milipore diantara dua kertas saring dan dibiarkan selama 24 jam (Minarsih, 2005). Membran kulit disimulasikan dengan membrane milipore yang telah diimpregnasi dengan Isopropyl Myristate (IPM) dan ditempelkan pada wadah yang berisi gel hidrofilik (Minarsih, 2005). Membran milipore yang sudah diimpregnasi ditimbang dan masing-masing formula pelembab diaplikasikan dengan bobot 2 gram dan dioleskan di atas membrane milipore di permukaan wadah. Sediaan uji disimpan di climatic chamber pada suhu 32 ± 1°C dengan kelembaban (RH) 70-80. Penimbangan dan pencatatan bobot sediaan uji (gram) dilakukan pada jam ke 1, 2, dan 4 jam setelah pembuatan. Replikasi dilakukan sebanyak tiga kali untuk masing-masing formula dan control (Minarsih, 2005). Suatu sediaan dikatakan efektif melembabkan kulit dengan nilai total (AUC) 27,05±5,15 mg/jam (Dewi, 2012)
4)      Uji aseptabilitas
Uji aseptabilitas ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan responden yang telah bersedia untuk menjadi subyek percobaan. Jumlah responden yang digunakan pada penelitian ini adalah 10 orang yang dipilih secara acak. Responden akan diminta untuk menggunakan krim pelembab kulit buah manggis pada lengan bagian atas dan diminta pendapatnya mengenai kemudahan diratakan, sensasi dingin dan kemudahan dibersihkan. Kriteria penilaian dari uji aseptabilitas dapat dilihat pada tabel.





Tabel Kriteria ketentuan penilaian uji aseptabilitas
Parameter penilaian uji aseptabilitas
Kemudahan diratakan
Sensasi dingin
Kemudahan dibersihkan
Interpretasi hasil
Skor
Interpretasi hasil
Skor
Interpretasi hasil
Skor
Sulit (+)
0
Sedikit dingin (+)
0
Sulit (+)
0
Mudah (++)
1
Dingin (++)
1
Mudah (++)
1
Sangat mudah (+++)


Tidak ada komentar: